Vektor: sifat-sifat di keseharian, representasi grafis & analitis, beda operasi skalar vs vektor, operasi vektor (jumlah, kurang, dot product, cross product).
Tujuan Pembelajaran (5)
FIS-F.PI1Menganalisis konsep gerak menggunakan vektor untuk menjelaskan berbagai fenomena.
FIS-F.PI1.1Menerangkan vektor beserta sifat-sifatnya yang dijumpai di keseharian.
FIS-F.PI1.2Merepresentasikan vektor (grafis maupun analitis lewat komponen) demi memodelkan fenomena fisis.
FIS-F.PI1.3Membedakan operasi skalar (aljabar) dibanding operasi vektor (geometri).
Fisika tidak hanya bertanya "berapa besar", tetapi juga "ke mana arahnya". Mobil yang bergerak 20m/s ke timur berbeda dengan mobil yang bergerak 20m/s ke barat. Besarnya sama, tetapi arah geraknya berbeda. Di sinilah vektor menjadi bahasa penting dalam fisika.
Vektor adalah besaran yang memiliki besar dan arah. Perpindahan, kecepatan, percepatan, gaya, momentum, dan medan listrik adalah contoh besaran vektor. Sebaliknya, massa, waktu, suhu, energi, dan kelajuan adalah besaran skalar karena hanya memerlukan nilai.
Gambar: sebuah vektor digambarkan sebagai panah; panjang panah menyatakan besar vektor dan arah panah menyatakan arah vektor.
Bab ini menjadi fondasi untuk kinematika, dinamika, gerak parabola, gaya, usaha, momentum, medan listrik, dan medan magnet. Banyak kesalahan fisika muncul bukan karena rumusnya sulit, tetapi karena arah vektornya tidak dibaca dengan benar.
Apa yang Akan Dipelajari?
Setelah mempelajari bab ini, kalian diharapkan dapat:
Menjelaskan perbedaan besaran skalar dan besaran vektor.
Menggambar vektor sebagai panah dengan besar dan arah yang tepat.
Menguraikan vektor menjadi komponen pada sumbu x dan y.
Menjumlahkan dan mengurangkan vektor secara grafis maupun analitis.
Menggunakan dot product untuk memaknai proyeksi dan kerja gaya.
Menggunakan cross product untuk memaknai arah tegak lurus dan torsi sederhana.
Memakai vektor untuk membaca fenomena gerak dan gaya dalam kehidupan sehari-hari.
Teori — Vektor
Vektor adalah besaran yang memiliki besar dan arah. Dalam gambar, vektor biasanya ditulis sebagai panah. Pangkal panah menunjukkan titik awal, ujung panah menunjukkan arah, dan panjang panah menyatakan besar vektor pada skala tertentu.
1. Skalar dan Vektor
Besaran skalar cukup dinyatakan dengan nilai dan satuan. Besaran vektor membutuhkan nilai, satuan, dan arah.
Skalar
Vektor
massa
perpindahan
waktu
kecepatan
suhu
percepatan
energi
gaya
kelajuan
momentum
Kelajuan 20m/s hanya menyatakan seberapa cepat benda bergerak. Kecepatan 20m/s ke timur menyatakan seberapa cepat sekaligus ke arah mana benda bergerak.
2. Representasi Grafis Vektor
Gambar: vektor memiliki pangkal, ujung, besar, dan arah terhadap acuan tertentu.
Jika satu skala gambar menyatakan 1cm=10N, maka gaya 30N dapat digambar sebagai panah sepanjang 3cm. Arah panah harus mengikuti arah gaya sebenarnya.
Dua vektor disebut sama jika besar dan arahnya sama, walaupun digambar di tempat berbeda. Titik letak panah boleh dipindahkan sejajar selama besar dan arah vektor tidak berubah, kecuali pada kasus tertentu seperti torsi yang bergantung pada titik kerja gaya.
3. Komponen Vektor
Vektor dua dimensi dapat diuraikan menjadi komponen pada sumbu x dan y. Jika vektor A memiliki besar A dan membentuk sudut θ terhadap sumbu x positif, maka:
Ax=Acosθ
Ay=Asinθ
Gambar: vektor miring dapat diuraikan menjadi komponen horizontal dan vertikal.
Besar vektor dapat dicari kembali dari komponennya:
A=Ax2+Ay2
Sudutnya dapat dicari dengan:
tanθ=AxAy
Namun, tanda Ax dan Ay tetap harus diperhatikan. Vektor di kuadran II, III, dan IV tidak cukup dibaca dari nilai tangen saja.
4. Penjumlahan Vektor secara Grafis
Penjumlahan vektor tidak sama dengan penjumlahan skalar biasa. Jika dua vektor memiliki arah berbeda, resultannya bergantung pada besar dan arah masing-masing vektor.
Gambar: pada metode ujung-ke-pangkal, resultan ditarik dari pangkal vektor pertama ke ujung vektor terakhir.
Metode grafis yang sering dipakai:
Ujung-ke-pangkal: letakkan pangkal vektor kedua di ujung vektor pertama. Resultan ditarik dari pangkal vektor pertama ke ujung vektor terakhir.
Jajar genjang: letakkan dua vektor dari pangkal yang sama. Lengkapi jajar genjang, lalu diagonalnya adalah resultan.
Jika dua vektor searah, resultannya adalah jumlah besar keduanya. Jika berlawanan arah, resultannya adalah selisih besar keduanya dan arahnya mengikuti vektor yang lebih besar.
5. Penjumlahan Vektor secara Komponen
Cara analitis yang paling aman adalah menjumlahkan komponen searah sumbu.
Untuk dua vektor A dan B:
R=A+B
Komponen resultannya:
Rx=Ax+Bx
Ry=Ay+By
Besar resultan:
R=Rx2+Ry2
Jika Rx dan Ry diketahui, arah resultan dapat dicari dari:
tanθ=RxRy
6. Pengurangan Vektor
Pengurangan vektor dapat dipandang sebagai penjumlahan dengan vektor lawannya.
A−B=A+(−B)
Vektor −B memiliki besar yang sama dengan B, tetapi arahnya berlawanan.
Gambar: mengurangkan vektor sama dengan menambahkan vektor yang arahnya dibalik.
Dalam komponen:
Rx=Ax−Bx
Ry=Ay−By
7. Dot Product
Dot product atau hasil kali titik menghasilkan besaran skalar.
A⋅B=ABcosθ
dengan θ sudut antara dua vektor. Dalam komponen dua dimensi:
A⋅B=AxBx+AyBy
Gambar: dot product terkait dengan proyeksi vektor pada arah vektor lain.
Makna penting dot product:
Jika sudutnya 0∘, dot product bernilai maksimum positif.
Jika sudutnya 90∘, dot product bernilai nol.
Jika sudutnya lebih dari 90∘, dot product bernilai negatif.
Dalam fisika, usaha oleh gaya dirumuskan:
W=F⋅s=Fscosθ
Artinya, hanya komponen gaya yang searah perpindahan yang melakukan usaha positif.
8. Cross Product
Cross product atau hasil kali silang menghasilkan vektor baru yang tegak lurus terhadap dua vektor asal.
∣A×B∣=ABsinθ
Arah A×B ditentukan dengan kaidah tangan kanan. Jika jari-jari tangan kanan diputar dari A ke B melalui sudut terkecil, ibu jari menunjukkan arah hasil cross product.
Gambar: cross product menghasilkan vektor yang tegak lurus bidang yang dibentuk dua vektor asal.
Beberapa makna penting:
Jika dua vektor sejajar, sin0∘=0, maka cross product bernilai nol.
Jika dua vektor tegak lurus, sin90∘=1, maka besar cross product maksimum.
Urutan vektor penting:
A×B=−(B×A)
Dalam fisika, torsi sederhana ditulis:
∣τ∣=rFsinθ
dengan arah torsi mengikuti kaidah tangan kanan.
9. Vektor dalam Fenomena Gerak
Gerak sering lebih mudah dipahami jika dipecah menjadi komponen. Pada gerak parabola, kecepatan awal diuraikan menjadi komponen horizontal dan vertikal. Pada kecepatan relatif, kecepatan benda terhadap pengamat diperoleh dari penjumlahan vektor kecepatan.
Gambar: kecepatan terhadap tanah dapat diperoleh dari penjumlahan kecepatan kendaraan dan kecepatan benda relatif terhadap kendaraan.
Vektor membuat satu ide menjadi jelas: arah menentukan hasil. Dua besaran yang sama besar dapat menghasilkan resultan yang sangat berbeda jika arahnya berbeda.