Kembali ke Kurikulum

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

Struktur atom & SPU: model atom (Dalton-Thomson-Rutherford-Bohr-kuantum), bilangan kuantum & konfigurasi elektron, kedudukan unsur di SPU, keperiodikan sifat unsur.

Tujuan Pembelajaran (5)
  • KIM-F.PI1Menganalisis proses terjadinya ikatan kimia dari unsur-unsur pembentuknya dan implikasinya terhadap sifat-sifat fisik senyawa yang dihasilkan.
  • KIM-F.PI1.1Memvisualisasikan struktur atom berbasis analisis perkembangan model atom (Dalton, Thomson, Rutherford, Bohr, mekanika kuantum).
  • KIM-F.PI1.2Menetapkan bilangan kuantum elektron sembari menyusun konfigurasi elektronnya suatu atom.
  • KIM-F.PI1.3Menetapkan kedudukan unsur pada sistem periodik (golongan, periode, blok s/p/d/f) berbasis konfigurasi elektron.
  • KIM-F.PI1.4Mengkaji keperiodikan sifat unsur (jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, keelektronegatifan) beserta kaitannya dengan kereaktifan unsur.

Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur

Mengapa natrium mudah membentuk ion, klorin mudah bereaksi sebagai oksidator, dan warna nyala garam logam dapat berbeda-beda? Jawabannya berawal dari susunan atom. Jumlah proton, neutron, elektron, susunan elektron dalam orbital, dan letak unsur pada sistem periodik membantu kita membaca sifat unsur sebelum unsur itu bereaksi.

Siswa SMA mengamati model atom, spektrum nyala, sampel unsur, dan tabel periodik besar untuk memulai bab struktur atom dan sistem periodik unsur

Mengapa Bab Ini Penting?

Bab ini menjadi dasar sebelum mempelajari ikatan kimia. Ikatan kimia terbentuk karena atom dapat melepas, menerima, atau berbagi elektron. Agar dapat menjelaskan proses itu, kamu perlu memahami struktur atom, konfigurasi elektron, dan pola sifat unsur dalam sistem periodik.

Memahami bab ini penting karena:

  1. struktur atom menjelaskan mengapa unsur memiliki identitas yang berbeda;
  2. perkembangan model atom menunjukkan bahwa teori ilmiah dibangun dari bukti eksperimen;
  3. bilangan kuantum dan konfigurasi elektron membantu menentukan posisi elektron;
  4. konfigurasi elektron dapat digunakan untuk menentukan periode, golongan, dan blok unsur;
  5. jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan menjelaskan kecenderungan reaktivitas unsur.

Tujuan Belajar

Setelah mempelajari bab ini, kamu diharapkan dapat:

  1. menggambarkan struktur atom berdasarkan perkembangan model atom Dalton, Thomson, Rutherford, Bohr, dan mekanika kuantum;
  2. menjelaskan peran proton, neutron, dan elektron dalam identitas atom;
  3. menggunakan notasi atom untuk menentukan nomor atom, nomor massa, jumlah proton, jumlah neutron, dan jumlah elektron;
  4. membedakan isotop, isobar, dan isoton;
  5. menjelaskan tingkat energi dan gagasan dasar model atom Bohr;
  6. menjelaskan makna bilangan kuantum utama, azimut, magnetik, dan spin;
  7. menyusun konfigurasi elektron dengan asas Pauli, aturan Aufbau, dan kaidah Hund;
  8. menentukan kedudukan unsur pada sistem periodik berdasarkan konfigurasi elektron;
  9. menganalisis kecenderungan jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan;
  10. menghubungkan sifat periodik dengan reaktivitas unsur dalam contoh kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan Pemantik

  • Mengapa atom netral memiliki jumlah proton dan elektron yang sama?
  • Mengapa percobaan lempeng emas Rutherford membantah model atom Thomson?
  • Mengapa konfigurasi elektron dapat menunjukkan golongan dan periode unsur?
  • Mengapa jari-jari atom umumnya mengecil dari kiri ke kanan dalam satu periode?
  • Mengapa unsur golongan alkali makin reaktif dari atas ke bawah, sedangkan halogen cenderung makin kurang reaktif dari atas ke bawah?

Aktivitas yang Akan Kamu Lakukan

Pada bab ini kamu akan membaca bukti eksperimen yang melahirkan model atom, menafsirkan notasi atom, menyusun konfigurasi elektron, menentukan posisi unsur pada sistem periodik, lalu memakai pola sifat periodik untuk menjelaskan reaktivitas unsur. Kamu juga akan berlatih menilai kasus seperti uji nyala logam, reaksi logam alkali dengan air, dan penggunaan klorin sebagai disinfektan.