Teori Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur
1. Peta Konsep Bab
Bab ini dapat dibaca sebagai satu alur. Pertama, kita memahami partikel penyusun atom dan perkembangan model atom. Kedua, kita mempelajari cara elektron ditempatkan dalam kulit, subkulit, dan orbital. Ketiga, kita memakai konfigurasi elektron untuk membaca posisi unsur pada sistem periodik. Keempat, kita menghubungkan posisi itu dengan sifat periodik dan reaktivitas unsur.

2. Atom dan Partikel Penyusunnya
Atom adalah bagian terkecil dari unsur yang masih menunjukkan identitas unsur tersebut. Teori modern menunjukkan bahwa atom tersusun atas proton, neutron, dan elektron. Proton dan neutron berada di inti atom, sedangkan elektron berada di daerah sekitar inti.

Tiga partikel utama atom memiliki peran berbeda:
- Proton bermuatan positif dan menentukan nomor atom suatu unsur.
- Neutron tidak bermuatan dan ikut menentukan nomor massa.
- Elektron bermuatan negatif dan sangat menentukan pembentukan ion serta ikatan kimia.
Pada atom netral, jumlah proton sama dengan jumlah elektron. Jika atom melepas elektron, atom menjadi ion positif. Jika atom menerima elektron, atom menjadi ion negatif.
3. Perkembangan Model Atom
Model atom berubah karena bukti eksperimen makin lengkap. Dalton menggambarkan atom sebagai partikel kecil penyusun materi. Thomson menunjukkan adanya elektron dan mengusulkan model "roti kismis". Rutherford menemukan inti atom yang sangat kecil dan bermuatan positif. Bohr menjelaskan tingkat energi elektron. Mekanika kuantum kemudian menggantikan lintasan pasti dengan orbital, yaitu daerah kebolehjadian ditemukannya elektron.

Perubahan model atom mengajarkan dua hal penting. Pertama, model ilmiah tidak hanya dibuat dari dugaan, tetapi dari data eksperimen. Kedua, model yang baru tidak selalu membuang semua gagasan lama; sering kali model baru memperbaiki bagian yang tidak dapat dijelaskan oleh model sebelumnya.
4. Penemuan Elektron dan Proton
Elektron ditemukan dari kajian sinar katode. Dalam tabung hampa, sinar bergerak dari katode menuju anode dan dapat dibelokkan oleh medan listrik atau medan magnet. Pembelokan itu menunjukkan bahwa sinar katode tersusun atas partikel bermuatan negatif.
Proton berkaitan dengan kajian sinar kanal. Saat katode berlubang digunakan, muncul sinar yang bergerak berlawanan arah dengan sinar katode. Sinar ini bermuatan positif dan menjadi salah satu dasar penemuan proton.

Penemuan elektron dan proton membantah gagasan bahwa atom adalah bola pejal yang tidak dapat dibagi. Atom ternyata memiliki bagian internal dengan muatan berbeda.
5. Percobaan Rutherford dan Inti Atom
Rutherford menembakkan partikel alfa ke lempeng emas tipis. Jika atom adalah bola pejal bermuatan positif seperti model Thomson, sebagian besar partikel alfa seharusnya banyak terhambat. Namun hasilnya berbeda: sebagian besar partikel alfa menembus lurus, sebagian kecil dibelokkan, dan sangat sedikit dipantulkan balik.

Kesimpulan percobaan ini:
- sebagian besar volume atom adalah ruang kosong;
- muatan positif dan massa atom terkonsentrasi pada inti yang sangat kecil;
- elektron berada di sekitar inti atom.
Model Rutherford masih memiliki kelemahan karena belum mampu menjelaskan kestabilan elektron dan spektrum garis atom. Kelemahan ini kemudian diperbaiki oleh model Bohr dan mekanika kuantum.
6. Notasi Atom, Isotop, Isobar, dan Isoton
Identitas atom dapat ditulis dengan notasi:
Dalam notasi tersebut, X adalah lambang unsur, Z adalah nomor atom, dan A adalah nomor massa. Nomor atom menunjukkan jumlah proton. Pada atom netral, jumlah elektron sama dengan jumlah proton. Nomor massa menunjukkan jumlah proton dan neutron.
Jika jumlah proton diketahui dari Z, maka jumlah neutron dapat dihitung:

Beberapa istilah penting:
- Isotop adalah atom-atom dari unsur yang sama dengan nomor atom sama, tetapi nomor massa berbeda. Contoh: 612C dan 614C.
- Isobar adalah atom-atom dari unsur berbeda dengan nomor massa sama, tetapi nomor atom berbeda. Contoh: 1940K dan 1840Ar.
- Isoton adalah atom-atom dari unsur berbeda dengan jumlah neutron sama. Contoh: 1123Na dan 1224Mg sama-sama memiliki 12 neutron.
7. Model Bohr dan Tingkat Energi
Bohr mengusulkan bahwa elektron berada pada tingkat energi tertentu. Elektron dapat berpindah dari satu tingkat energi ke tingkat energi lain dengan menyerap atau melepaskan energi.

Perubahan energi elektron dapat ditulis:
ΔE=hν
Pada persamaan tersebut, ΔE adalah perubahan energi, h adalah konstanta Planck, dan ν adalah frekuensi radiasi. Ketika elektron berpindah ke tingkat energi lebih rendah, energi dapat dilepaskan sebagai cahaya. Gagasan ini membantu menjelaskan spektrum garis atom.
Model Bohr berguna untuk memperkenalkan kulit energi, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan atom berelektron banyak. Karena itu, model mekanika kuantum memakai orbital, bukan lintasan melingkar yang pasti.
8. Model Mekanika Kuantum dan Orbital
Dalam model mekanika kuantum, elektron tidak dianggap bergerak pada lintasan pasti seperti planet mengitari Matahari. Elektron dijelaskan melalui orbital, yaitu daerah dengan peluang besar untuk menemukan elektron.

Model mekanika kuantum didukung oleh gagasan dualisme gelombang-partikel, prinsip ketidakpastian, dan persamaan gelombang. Untuk pembelajaran di tingkat SMA, hal terpenting adalah memahami bahwa posisi elektron dinyatakan dengan bilangan kuantum dan orbital.
9. Bilangan Kuantum
Bilangan kuantum menjelaskan keadaan elektron dalam atom. Ada empat bilangan kuantum yang biasa dipakai.

- Bilangan kuantum utama n menyatakan kulit atau tingkat energi utama. Nilainya 1,2,3, dan seterusnya.
- Bilangan kuantum azimut ℓ menyatakan subkulit. Nilai ℓ=0 untuk s, ℓ=1 untuk p, ℓ=2 untuk d, dan ℓ=3 untuk f.
- Bilangan kuantum magnetik mℓ menyatakan orientasi orbital. Nilainya dari −ℓ sampai +ℓ.
- Bilangan kuantum spin ms menyatakan arah spin elektron, yaitu +21 atau −21.
Contoh: elektron pada orbital 3p memiliki n=3 dan ℓ=1. Karena ℓ=1, nilai mℓ yang mungkin adalah −1, 0, atau +1.
10. Aturan Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron menunjukkan susunan elektron dalam orbital. Penyusunannya mengikuti tiga aturan utama.

Aturan Aufbau menyatakan bahwa elektron mengisi orbital berenergi lebih rendah lebih dahulu. Urutan awal yang sering dipakai adalah:
1s, 2s, 2p, 3s, 3p, 4s, 3d, 4p, 5s, 4d, 5p
Asas larangan Pauli menyatakan bahwa satu orbital maksimum ditempati dua elektron dengan spin berlawanan. Karena itu, orbital yang terisi penuh digambarkan dengan dua panah berlawanan arah.
Kaidah Hund menyatakan bahwa pada orbital-orbital setingkat, elektron mengisi orbital kosong satu per satu dengan spin sejajar terlebih dahulu sebelum berpasangan.
Contoh konfigurasi nitrogen, Z=7:
N:1s2 2s2 2p3
Pada subkulit 2p, tiga elektron menempati tiga orbital p secara tunggal terlebih dahulu.
11. Menentukan Bilangan Kuantum Elektron Terakhir
Untuk menentukan bilangan kuantum elektron terakhir, tulis konfigurasi elektron terlebih dahulu, lalu lihat orbital terakhir yang terisi.
Contoh unsur klorin, Z=17:
Cl:1s2 2s2 2p6 3s2 3p5
Elektron terakhir berada pada subkulit 3p. Maka n=3 dan ℓ=1. Nilai mℓ dan ms bergantung pada cara pengisian kotak orbital yang digunakan secara konsisten. Untuk tingkat SMA, yang penting adalah mengikuti kaidah Hund dan asas Pauli.

Contoh unsur magnesium, Z=12:
Mg:1s2 2s2 2p6 3s2
Elektron terakhir berada pada orbital 3s. Maka n=3, ℓ=0, dan mℓ=0. Karena orbital 3s berisi dua elektron, elektron terakhir memiliki spin berlawanan dengan elektron pertama pada orbital tersebut.
12. Sistem Periodik Unsur
Sistem periodik unsur modern menyusun unsur berdasarkan kenaikan nomor atom. Penyusunan ini berbeda dari beberapa sistem lama yang memakai massa atom atau pola kemiripan sederhana. Perkembangan sistem periodik melibatkan gagasan Dobereiner, Newlands, Mendeleev, dan Moseley.

Sistem modern sangat berguna karena posisi unsur berhubungan dengan konfigurasi elektron. Unsur dalam satu golongan sering memiliki jumlah elektron valensi yang mirip, sehingga sifat kimianya juga mirip.
13. Dari Konfigurasi Elektron ke Posisi Unsur
Konfigurasi elektron dapat membantu menentukan periode, golongan, dan blok unsur.

Aturan ringkas:
- Periode ditentukan oleh nilai n terbesar pada konfigurasi elektron.
- Blok unsur ditentukan oleh subkulit terakhir yang terisi, yaitu blok s, p, d, atau f.
- Untuk golongan utama, jumlah elektron valensi pada subkulit s dan p membantu menentukan golongan A.
Contoh natrium, Z=11:
Na:1s2 2s2 2p6 3s1
Nilai n terbesar adalah 3, sehingga natrium berada pada periode 3. Elektron terakhir berada pada subkulit s, sehingga natrium berada pada blok s. Elektron valensinya 1, sehingga natrium berada pada golongan IA.
Contoh karbon, Z=6:
C:1s2 2s2 2p2
Nilai n terbesar adalah 2, sehingga karbon berada pada periode 2. Elektron valensi pada 2s22p2 berjumlah 4, sehingga karbon berada pada golongan IVA.
14. Sifat Periodik Unsur
Sifat periodik adalah sifat unsur yang berubah secara teratur mengikuti posisi unsur dalam sistem periodik. Pada bab ini, sifat yang ditekankan adalah jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan.

Jari-jari atom umumnya bertambah dari atas ke bawah dalam satu golongan karena jumlah kulit bertambah. Dalam satu periode, jari-jari atom umumnya mengecil dari kiri ke kanan karena muatan inti efektif makin besar sehingga elektron terluar tertarik lebih kuat.
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan atom netral fase gas untuk melepas satu elektron. Energi ionisasi umumnya mengecil dari atas ke bawah dalam satu golongan dan membesar dari kiri ke kanan dalam satu periode.
Afinitas elektron berkaitan dengan perubahan energi ketika atom fase gas menerima elektron membentuk anion. Unsur halogen memiliki kecenderungan besar untuk menerima elektron.
Keelektronegatifan adalah kemampuan atom menarik elektron dalam ikatan kimia. Nilainya umumnya membesar dari kiri ke kanan dalam satu periode dan mengecil dari atas ke bawah dalam satu golongan.
15. Sifat Periodik dan Reaktivitas
Reaktivitas unsur dapat dijelaskan melalui kecenderungan melepas atau menerima elektron. Logam alkali mudah melepas satu elektron valensi. Dari litium ke natrium lalu kalium, jari-jari atom makin besar sehingga elektron valensi makin mudah lepas. Karena itu, reaktivitas logam alkali meningkat dari atas ke bawah.

Halogen cenderung menerima satu elektron untuk membentuk ion halida. Dari atas ke bawah, jari-jari atom halogen makin besar dan tarikan inti terhadap elektron tambahan makin lemah. Karena itu, reaktivitas halogen umumnya menurun dari atas ke bawah.
Keterkaitan ini penting untuk memahami ikatan kimia. Unsur yang mudah melepas elektron cenderung membentuk kation, sedangkan unsur yang mudah menerima elektron cenderung membentuk anion.
16. Aplikasi: Uji Nyala, Disinfektan, dan Energi Matahari
Konsep struktur atom dan sifat periodik muncul dalam banyak contoh. Pada uji nyala, pemanasan dapat mengeksitasi elektron. Ketika elektron kembali ke tingkat energi lebih rendah, cahaya dengan warna tertentu dapat dipancarkan. Karena perbedaan struktur elektron, beberapa ion logam memberi warna nyala yang berbeda.

Klorin digunakan sebagai salah satu bahan disinfektan karena unsur halogen memiliki kecenderungan kuat menarik elektron dan dapat bertindak sebagai oksidator. Dalam konteks yang tepat dan dosis yang terkontrol, sifat ini dapat merusak mikroorganisme.
Matahari juga dapat menjadi konteks pengantar struktur atom. Matahari didominasi oleh hidrogen dan helium. Energi Matahari berkaitan dengan reaksi inti yang menggabungkan inti hidrogen menjadi helium. Walaupun reaksi inti tidak dibahas mendalam dalam bab ini, contoh tersebut menunjukkan bahwa identitas unsur dan struktur atom penting untuk memahami fenomena alam.
17. Ringkasan
- Atom tersusun atas proton, neutron, dan elektron.
- Nomor atom Z menunjukkan jumlah proton, sedangkan nomor massa A menunjukkan jumlah proton dan neutron.
- Model atom berkembang dari Dalton, Thomson, Rutherford, Bohr, sampai mekanika kuantum.
- Model mekanika kuantum memakai orbital dan bilangan kuantum untuk menjelaskan keadaan elektron.
- Konfigurasi elektron disusun dengan aturan Aufbau, asas Pauli, dan kaidah Hund.
- Konfigurasi elektron dapat digunakan untuk menentukan periode, golongan, dan blok unsur.
- Jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan berubah secara periodik.
- Sifat periodik membantu menjelaskan kecenderungan reaktivitas unsur dan menjadi dasar untuk mempelajari ikatan kimia.