Teori - Barisan dan Deret
Bab ini dapat dibaca sebagai alur dari pola suku, jumlah suku, lalu penerapan pada situasi finansial sederhana.

Gambar: bab barisan dan deret menghubungkan pola aritmetika, pola geometri, deret, bunga tunggal, dan bunga majemuk.
1. Barisan, Suku, dan Deret
Barisan adalah susunan bilangan yang memiliki urutan. Setiap bilangan dalam barisan disebut suku.
Jika barisan ditulis:
U1, U2, U3,…, Un
maka Un berarti suku ke-n.
Deret adalah penjumlahan suku-suku suatu barisan. Jika Sn menyatakan jumlah n suku pertama, maka:
Sn=U1+U2+U3+⋯+Un
Contoh:
3, 6, 9, 12,…
adalah barisan. Bentuk:
3+6+9+12+⋯
adalah deret.
2. Barisan Aritmetika
Barisan aritmetika memiliki beda tetap antar dua suku berurutan.
Jika suku pertama adalah a dan beda adalah b, maka:
Un=a+(n−1)b

Gambar: barisan aritmetika memiliki pertambahan tetap, sedangkan barisan geometri memiliki pengali tetap.
Contoh:
5, 9, 13, 17,…
Suku pertama a=5 dan beda b=4, sehingga:
Un=5+(n−1)4
Suku ke-20:
U20=5+(20−1)4=5+76=81
3. Deret Aritmetika
Deret aritmetika adalah jumlah suku-suku dari barisan aritmetika.
Jika suku pertama a, beda b, dan suku ke-n adalah Un, maka:
Sn=2n(a+Un)
Karena Un=a+(n−1)b, rumus lain yang sering dipakai adalah:
Sn=2n(2a+(n−1)b)

Gambar: beda tetap b menentukan suku ke-n dan jumlah n suku pertama pada pola aritmetika.
Contoh:
Hitung jumlah 15 suku pertama dari barisan:
6, 10, 14, 18,…
Diketahui a=6, b=4, dan n=15.
S15=215(2(6)+(15−1)4)
S15=215(12+56)=215⋅68=510
4. Bunga Tunggal sebagai Pola Aritmetika
Pada bunga tunggal, bunga setiap periode dihitung dari modal awal. Karena bunga per periode tetap, total uang membentuk pola aritmetika.
Jika modal awal M, suku bunga per periode i, dan banyak periode n, maka bunga total:
B=M⋅i⋅n
Jumlah akhir:
A=M(1+in)
Contoh:
Modal Rp2.000.000 disimpan dengan bunga tunggal 2% per bulan selama 6 bulan.
A=2.000.000(1+0,02⋅6)
A=2.000.000(1,12)=2.240.000
5. Barisan Geometri
Barisan geometri memiliki rasio tetap antar dua suku berurutan.
Jika suku pertama adalah a dan rasio adalah r, maka:
Un=arn−1
Contoh:
3, 6, 12, 24,…
Suku pertama a=3 dan rasio r=2, sehingga:
Un=3⋅2n−1
Suku ke-8:
U8=3⋅27=384
6. Deret Geometri
Deret geometri adalah jumlah suku-suku dari barisan geometri.
Untuk r=1, jumlah n suku pertama dapat ditulis:
Sn=r−1a(rn−1)
atau:
Sn=1−ra(1−rn)
Kedua bentuk di atas setara. Pilih bentuk yang membuat perhitungan lebih mudah.

Gambar: rasio tetap r menentukan suku ke-n dan jumlah n suku pertama pada pola geometri.
Contoh:
Hitung jumlah 6 suku pertama dari deret:
4+8+16+32+⋯
Diketahui a=4, r=2, dan n=6.
S6=2−14(26−1)
S6=4(64−1)=252
7. Deret Geometri Tak Hingga
Deret geometri tak hingga:
a+ar+ar2+ar3+⋯
memiliki jumlah hingga jika:
Jumlahnya:
S∞=1−ra
Contoh:
12+6+3+23+⋯
memiliki a=12 dan r=21, sehingga:
S∞=1−2112=2112=24
Jika ∣r∣≥1, deret geometri tak hingga tidak menuju jumlah tertentu.
8. Bunga Majemuk sebagai Pola Geometri
Pada bunga majemuk, nilai setiap periode dihitung dari nilai periode sebelumnya. Karena itu, nilai akhir membentuk pola geometri.
Jika modal awal M, suku bunga per periode i, dan banyak periode n, maka:
A=M(1+i)n

Gambar: bunga tunggal bertambah dengan selisih tetap, sedangkan bunga majemuk bertambah dengan faktor pengali.
Contoh:
Modal Rp2.000.000 disimpan dengan bunga majemuk 2% per bulan selama 6 bulan.
A=2.000.000(1+0,02)6
A≈2.252.324
Nilai bunga majemuk sedikit lebih besar daripada bunga tunggal karena bunga pada bulan berikutnya ikut dihitung dari bunga yang sudah terbentuk.