Bilangan rasional: identifikasi, bentuk pecahan dan desimal, estimasi nilai, operasi hitung (+, -, kali, bagi), serta masalah kontekstual seperti persen, diskon, suhu, dan resep.
Tujuan Pembelajaran (6)
M-D.1Mengidentifikasi bilangan rasional dalam bentuk pecahan, desimal, persen, pecahan campuran, dan bilangan bulat.
M-D.1.1Mengenali bilangan yang tergolong rasional sekaligus menuliskannya dalam pecahan maupun desimal.
M-D.1.2Memperkirakan nilai bilangan rasional sembari membandingkannya pada garis bilangan.
M-D.1.3Melakukan taksiran terhadap hasil operasi hitung pada bilangan rasional.
M-D.1.4Mengeksekusi tambah-kurang-kali-bagi pada bilangan rasional.
M-D.1.5Memecahkan persoalan kontekstual yang memanfaatkan bilangan rasional (literasi finansial dasar, persen, diskon).
Bilangan Rasional
Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat ditulis dalam bentuk pecahan ba, dengan a dan b bilangan bulat serta b=0.
Bab ini membantu kamu melihat bahwa pecahan, desimal, persen, dan bilangan campuran sering kali hanya bentuk berbeda dari nilai yang sama.
Contoh:
43=0,75=75%
Gambar: bab ini membahas bentuk bilangan rasional, perbandingan, estimasi, operasi hitung, dan penggunaannya dalam konteks sehari-hari.
Dalam bab ini kamu akan belajar:
mengenali bilangan rasional;
mengubah pecahan ke desimal dan sebaliknya;
memperkirakan letak bilangan rasional pada garis bilangan;
membandingkan dan mengurutkan bilangan rasional;
melakukan operasi tambah, kurang, kali, dan bagi;
menggunakan bilangan rasional dalam konteks suhu, uang, resep, persen, dan diskon.
Gunakan tab Teori untuk memahami konsep utama, tab Soal untuk latihan, dan tab Jawaban untuk mengecek pembahasan langkah demi langkah.
Bilangan Rasional
1. Pengertian Bilangan Rasional
Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat ditulis sebagai:
ba
dengan a dan b bilangan bulat, serta b=0.
Syarat b=0 penting karena pembagian dengan nol tidak terdefinisi.
Contoh bilangan rasional:
32
−45
7=17
0,25=10025=41
125%=100125=45
Tidak semua bilangan desimal adalah bilangan rasional. Desimal yang terhenti, seperti 0,25, dan desimal yang berulang, seperti 0,333…, termasuk rasional. Sebaliknya, desimal yang tidak terhenti dan tidak memiliki pola berulang, seperti nilai π atau 2, bukan bilangan rasional.
Gambar: pecahan, desimal, dan persen dapat menyatakan bilangan rasional yang sama.
2. Bentuk-Bentuk Bilangan Rasional
Bilangan rasional dapat muncul dalam beberapa bentuk.
Bentuk
Contoh
Makna
Pecahan biasa
53
3 bagian dari 5 bagian sama besar
Pecahan campuran
132
1+32
Desimal terhenti
0,75
desimal yang berhenti
Desimal berulang
0,333…
desimal yang pola angkanya berulang
Persen
40%
10040
Bilangan bulat
−6
sama dengan 1−6
Jadi bilangan bulat juga termasuk bilangan rasional, karena setiap bilangan bulat n dapat ditulis sebagai 1n.
3. Bilangan Rasional pada Garis Bilangan
Setiap bilangan rasional memiliki posisi pada garis bilangan. Garis bilangan membantu kita membandingkan nilai dengan melihat posisi.
Aturan penting:
Semakin ke kanan, nilai semakin besar.
Semakin ke kiri, nilai semakin kecil.
Pecahan negatif tetap lebih kecil dari nol.
Pecahan dan desimal dapat dibandingkan setelah diubah ke bentuk yang mudah dibaca.
Gambar: bilangan rasional dapat ditempatkan dan dibandingkan pada garis bilangan.
Contoh:
−21<0<43<1,25
4. Mengubah Pecahan ke Desimal
Untuk mengubah pecahan ke desimal, lakukan pembagian pembilang oleh penyebut.
Contoh desimal terhenti:
83=3÷8=0,375
Contoh desimal berulang:
31=0,333…
Gambar: sebagian pecahan menghasilkan desimal terhenti, sebagian lain menghasilkan desimal berulang.
Mengapa penyebut menentukan jenis desimalnya? Desimal terhenti selalu dapat ditulis sebagai pecahan berpenyebut 10, 100, 1000, dan seterusnya. Penyebut seperti itu hanya tersusun dari faktor prima 2 dan 5, karena 10=2×5.
Jika pecahan sederhana memiliki penyebut yang hanya tersusun dari 2 dan/atau 5, penyebutnya dapat diubah menjadi 10, 100, 1000, dan seterusnya. Akibatnya, pembagian akan selesai dan desimalnya terhenti. Sebaliknya, jika penyebut masih memiliki faktor lain seperti 3, 7, atau 11, sisa pembagian akan muncul berulang sehingga desimalnya berulang.
Kapan Desimal Terhenti?
Jika pecahan sudah sederhana, desimalnya akan terhenti bila faktor prima penyebutnya hanya 2 dan/atau 5.
Contoh:
81 terhenti karena 8=23.
207 terhenti karena 20=22×5.
61 tidak terhenti karena 6=2×3 mengandung faktor 3.
5. Mengubah Desimal ke Pecahan
Untuk desimal terhenti, perhatikan jumlah angka di belakang koma.
Contoh:
0,45=10045=209
Contoh lain:
2,125=10002125=817
Jika desimalnya negatif, tandanya tetap dibawa:
−0,6=−106=−53
6. Membandingkan Bilangan Rasional
Ada beberapa strategi untuk membandingkan bilangan rasional.
Strategi 1: Samakan Penyebut
Contoh:
32dan53
KPK dari 3 dan 5 adalah 15.
32=1510
53=159
Jadi:
32>53
Strategi 2: Ubah ke Desimal
Contoh:
87=0,875
Karena 0,875>0,8, maka:
87>0,8
Strategi 3: Gunakan Garis Bilangan
Strategi ini sangat baik untuk estimasi. Misalnya 65 dekat dengan 1, sedangkan 52 dekat dengan 0,4.
7. Estimasi Hasil Operasi
Estimasi berarti memperkirakan hasil perhitungan sebelum menghitung secara tepat. Estimasi berguna untuk memeriksa apakah jawaban akhir masuk akal.
Contoh:
87+125
Nilai 87 dekat dengan 1, sedangkan 125 dekat dengan 21. Jadi hasilnya kira-kira:
1+21=121
Perhitungan tepatnya:
87+125=2421+2410=2431=1247
Hasil tepat 1247 memang dekat dengan taksiran 121.
Gambar: estimasi memberi patokan cepat, lalu perhitungan tepat dipakai untuk memastikan hasil akhir.
Estimasi juga membantu dalam situasi sehari-hari. Misalnya, jika resep membutuhkan 243 gelas tepung untuk satu adonan, maka untuk dua adonan diperlukan sedikit lebih dari 5 gelas tepung. Dengan begitu, kita bisa cepat menilai apakah persediaan tepung cukup sebelum menghitung rinci.
8. Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Rasional
Untuk menjumlahkan atau mengurangkan pecahan, penyebut harus sama.
Contoh:
21+31
KPK dari 2 dan 3 adalah 6.
21=63
31=62
Maka:
21+31=63+62=65
Gambar: pada penjumlahan pecahan, penyebut disamakan dahulu sebelum pembilang dijumlahkan.
Untuk pengurangan:
65−41
KPK dari 6 dan 4 adalah 12.
65=1210
41=123
Maka:
65−41=1210−123=127
9. Perkalian dan Pembagian Bilangan Rasional
Perkalian Pecahan
Untuk mengalikan pecahan, kalikan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut.
ba×dc=b×da×c
Contoh:
32×45=1210=65
Pembagian Pecahan
Membagi dengan pecahan sama dengan mengalikan dengan kebalikannya.
ba÷dc=ba×cd
Contoh:
43÷21=43×12=46=23
10. Tanda Positif dan Negatif
Bilangan rasional juga dapat bernilai negatif.
Aturan tanda pada perkalian dan pembagian sama seperti bilangan bulat:
Operasi tanda
Hasil
positif dengan positif
positif
negatif dengan negatif
positif
positif dengan negatif
negatif
negatif dengan positif
negatif
Contoh:
−32+61=−64+61=−63=−21
11. Persen, Diskon, dan Literasi Finansial
Persen berarti per seratus.
25%=10025=41
Persen sering muncul dalam diskon, bunga, untung, rugi, dan perbandingan data.
Gambar: persen dapat diubah menjadi pecahan atau desimal untuk menghitung potongan harga.
Contoh:
Sebuah barang berharga Rp80.000 mendapat diskon 25%.
Diskon:
25%×80.000=10025×80.000=20.000
Harga setelah diskon:
80.000−20.000=60.000
Jadi, harga yang dibayar adalah Rp60.000.
Contoh lain dalam literasi finansial adalah nilai tukar mata uang.
Misalkan kurs jual 1 KRW adalah Rp12,50. Jika seseorang ingin menukar Rp250.000 menjadi KRW, maka perkiraannya:
250.000÷12,50=20.000
Jadi, Rp250.000 setara dengan kira-kira 20.000 KRW pada kurs tersebut. Dalam masalah seperti ini, bilangan desimal dan operasi pembagian membantu kita mengambil keputusan keuangan secara lebih tepat.
12. Simulasi yang Relevan
Gunakan simulasi berikut untuk menguatkan pemahaman: