Kesebangunan
1. Ide Dasar Kesebangunan
Dua bangun disebut sebangun jika bentuknya sama dan ukuran sisi-sisinya berubah secara proporsional.
Contoh:
- foto kecil dan foto yang diperbesar;
- denah rumah dan rumah sebenarnya;
- dua segitiga dengan sudut-sudut bersesuaian sama;
- bayangan tongkat dan bayangan pohon pada waktu yang sama.
Pada bangun sebangun, sudut-sudut yang bersesuaian sama besar, dan sisi-sisi yang bersesuaian memiliki rasio yang sama.
2. Hubungan Sudut pada Garis Sejajar
Sebelum membahas segitiga sebangun, kita perlu memahami hubungan sudut.
Jika dua garis sejajar dipotong oleh satu garis transversal, terbentuk beberapa pasangan sudut khusus.

Gambar: garis sejajar yang dipotong transversal menghasilkan pasangan sudut sehadap, berseberangan, dan sepihak.
Hubungan yang penting:
| Hubungan sudut |
Sifat |
| Sudut sehadap |
sama besar |
| Sudut dalam berseberangan |
sama besar |
| Sudut luar berseberangan |
sama besar |
| Sudut dalam sepihak |
jumlahnya 180∘ |
| Sudut bertolak belakang |
sama besar |
| Sudut berpelurus |
jumlahnya 180∘ |
Hubungan sudut ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa dua segitiga memiliki sudut-sudut yang sama.
3. Pembeda Ringkas: Kongruen dan Sebangun
Fokus utama bab ini adalah kesebangunan. Kongruen dibahas singkat sebagai pembanding karena keduanya sama-sama membahas bentuk bangun.
| Konsep |
Makna |
| Kongruen |
bentuk sama dan ukuran sama |
| Sebangun |
bentuk sama, ukuran boleh berbeda asal proporsional |
Jika dua bangun kongruen, maka dua bangun itu juga sebangun.
Namun, jika dua bangun sebangun, belum tentu keduanya kongruen.
Contoh:
- Dua segitiga yang ukurannya persis sama adalah kongruen dan sebangun.
- Dua segitiga dengan bentuk sama tetapi satu dua kali lebih besar dari yang lain adalah sebangun, tetapi tidak kongruen.

Gambar: bangun kongruen pasti sebangun, tetapi bangun sebangun belum tentu kongruen.
4. Syarat Bangun Sebangun
Dua bangun datar sebangun jika:
- sudut-sudut yang bersesuaian sama besar;
- panjang sisi-sisi yang bersesuaian memiliki rasio yang sama.
Contoh segiempat:
Jika persegi panjang pertama berukuran 4×3 dan persegi panjang kedua berukuran 8×6, maka keduanya sebangun karena:
dan
Kedua ukuran sisi dikalikan faktor yang sama, yaitu 2.
5. Segitiga Sebangun
Dua segitiga sebangun jika sisi dan sudut yang bersesuaian memenuhi syarat tertentu.
Syarat yang sering dipakai:
| Syarat |
Makna |
| AA |
dua pasang sudut bersesuaian sama besar |
| SSS |
tiga pasang sisi bersesuaian sebanding |
| SAS |
dua pasang sisi bersesuaian sebanding dan sudut apitnya sama |

Gambar: dua segitiga sebangun memiliki perbandingan sisi bersesuaian yang sama.
Contoh:
Segitiga ABC memiliki sisi 4, 5, dan 6 cm. Segitiga DEF memiliki sisi 8, 10, dan 12 cm.
Bandingkan sisi bersesuaian:
48=2,510=2,612=2
Karena semua rasio sama, maka kedua segitiga sebangun.
6. Faktor Skala
Faktor skala adalah bilangan pengali dari ukuran bangun pertama ke bangun kedua.
Jika sisi pada bangun pertama 4 cm dan sisi bersesuaian pada bangun kedua 6 cm, maka faktor skalanya:
k=46=1,5

Gambar: faktor skala mengalikan semua panjang sisi yang bersesuaian.
Pada bangun sebangun:
- panjang sisi dikalikan k;
- keliling dikalikan k;
- luas dikalikan k2.
Catatan: Untuk bab ini, fokus utama kita adalah panjang sisi dan faktor skala. Perubahan luas akan dipelajari lebih dalam pada bab pengukuran.
7. Mencari Panjang Sisi yang Belum Diketahui
Jika dua segitiga sebangun, kita dapat memakai perbandingan sisi.
Contoh:
Segitiga kecil memiliki sisi 3 cm, 4 cm, dan 5 cm. Segitiga besar sebangun dengan segitiga kecil. Sisi yang bersesuaian dengan 3 cm menjadi 9 cm.
Faktor skala:
k=39=3
Maka sisi yang bersesuaian dengan 4 cm menjadi:
4×3=12
dan sisi yang bersesuaian dengan 5 cm menjadi:
5×3=15
8. Mengukur Tinggi dengan Kesebangunan
Kesebangunan dapat digunakan untuk mengukur tinggi benda yang sulit diukur langsung, misalnya pohon atau tiang.
Misalnya:
- tinggi tongkat = 1,5 m;
- bayangan tongkat = 2 m;
- bayangan pohon = 8 m.
Karena sinar matahari datang dengan arah yang sama, segitiga tongkat dan segitiga pohon sebangun.

Gambar: tinggi pohon dapat dihitung dari perbandingan tinggi dan bayangan pada dua segitiga sebangun.
Gunakan perbandingan:
bayangan pohontinggi pohon=bayangan tongkattinggi tongkat
Substitusi:
8h=21,5
Maka:
h=8×21,5=6
Jadi tinggi pohon adalah 6 m.
9. Simulasi yang Relevan
Gunakan simulasi berikut untuk menguatkan pemahaman:
Ringkasan
- Bangun sebangun memiliki bentuk sama dan ukuran proporsional.
- Bangun kongruen sama bentuk dan sama ukuran; konsep ini dipakai sebagai pembeda dari bangun sebangun.
- Pada bangun sebangun, sudut bersesuaian sama besar dan sisi bersesuaian sebanding.
- Hubungan sudut pada garis sejajar dan transversal membantu membuktikan kesebangunan.
- Segitiga sebangun dapat dikenali melalui AA, SSS, atau SAS.
- Faktor skala digunakan untuk mencari panjang sisi yang belum diketahui.
- Kesebangunan berguna untuk pengukuran tidak langsung, seperti mengukur tinggi benda dari bayangannya.