← Semua Video
Alam

Gua Raksasa Dibentuk Air — Tapi Bukan dengan Mengikis

Air hujan melarutkan CO2 jadi asam lemah, lalu melarutkan batu kapur sedikit demi sedikit. Pelarutan membuka lorongnya; pengendapan yang menghiasnya.

Batu kapur terasa keras di tangan. Jadi bagaimana air bisa membentuk gua yang begitu besar di dalamnya? Kuncinya bukan air biasa yang mengikis batu — melainkan reaksi kimia, rekahan, dan waktu yang sangat panjang.

Air hujan meresap ke tanah dan masuk ke rekahan alami pada batu kapur; rekahan itulah jalur awalnya. Sepanjang perjalanan, terutama saat melewati tanah yang kaya karbon dioksida, air melarutkan CO₂ dan membentuk asam karbonat lemah. Airnya jadi sedikit asam — dan itu cukup.

Mengalir di sepanjang rekahan, air yang sedikit asam itu melarutkan batu kapur. Sedikit demi sedikit, selama waktu yang sangat panjang, celah melebar jadi saluran, lalu jadi lorong. Setelah jalurnya membesar, aliran atau sungai bawah tanah terus memperluasnya. Air bergerak melalui sistem karst, dan bisa muncul kembali di permukaan sebagai mata air.

Ada bagian kedua yang sering tertukar dengan yang pertama. Di dalam ruang gua, air yang menetes membawa mineral terlarut; saat melepaskan karbon dioksida, ia mengendapkan kalsit. Endapan itulah yang membentuk stalaktit di atap dan stalagmit di lantai. Jadi pelarutan yang membuka lorongnya, dan pengendapan yang menghiasnya — dua proses berlawanan arah di tempat yang sama.

Satu catatan: tidak semua gua di dunia terbentuk lewat jalan ini.

Video Lain