Nomor atom 3, logam alkali, dan logam padat paling ringan — 0,534 g/cm3. Menggerakkan baterai isi ulang, dan garamnya jadi obat bipolar.
Litium ada di balik hampir semua baterai isi ulang — ponsel, laptop, kendaraan listrik. Tapi unsur nomor tiga ini punya cerita yang jauh lebih luas daripada sekadar baterai.
Simbolnya Li, nomor atom 3. Ia logam alkali, dan sekaligus logam padat paling ringan yang kita kenal: massa jenisnya sekitar 0,534 gram per sentimeter kubik. Litium murni berwarna keperakan dan cukup lunak, tapi gampang bereaksi dengan udara dan air — karena itu sampel logamnya disimpan terlindung, misalnya di bawah minyak mineral.
Di dalam baterai litium-ion, yang berpindah bolak-balik di antara dua elektroda adalah ion litiumnya. Perpindahan itulah yang membuat energi bisa disimpan, dipakai, lalu diisi lagi.
Karena sangat reaktif, litium tidak pernah ditemukan sebagai logam bebas di alam. Bahan bakunya diambil dari mineral batuan dan air garam yang kaya litium, lalu dipisahkan dan dimurnikan.
Ada pula sisi yang jarang disangka: senyawa atau garam litium dipakai sebagai obat untuk gangguan bipolar. Yang dipakai bukan logam litiumnya, dan penggunaannya harus dengan resep serta pemantauan dokter dan pemeriksaan laboratorium.
Unsur ini dikenali pada 1817 oleh Johan August Arfwedson saat meneliti sebuah mineral. Namanya diambil dari kata Yunani lithos — batu.
Air hujan melarutkan CO2 jadi asam lemah, lalu melarutkan batu kapur sedikit demi sedikit. Pelarutan membuka lorongnya; pengendapan yang menghiasnya.
Secara botani tomat adalah buah — bahkan sejenis beri. Di dapur ia sayur. Dan pada 1893 pertanyaan ini sampai ke Mahkamah Agung.
Per satuan berat, ya. Per batang, tidak. Dan jaring Spider-Man tetap fiksi.
Tiga hari ke Bulan, enam sampai sembilan bulan ke Mars. Keduanya belum layak huni — tapi perannya memang berbeda.
Nomor atom 25, logam transisi, meleleh di 1.246 derajat. Diam-diam bikin baja tahan benturan, dan jadi isi baterai kering.